HARI POHON SEDUNIA

Hari pohon sedunia di peringati setiap tanggal 21 November setiap tahunnya. Apa yang akan kita lakukan dalam rangka memperingati dan mengingat hari pohon sedunia? Ini merupakan sebuah renungan untuk kita bersama, di hari pohon ini apa yang sudah kita lakukan untuk lingkungan.

Terlepas dari besarnya jumlah kontribusi kita terhadap lingkungan, Sudahkan kita melakukan hal – hal kecil tapi berarti untuk lingkungan, seperti tidak membuang sampah sembarangan, menyimpan sampah plastik di saku kita sampai kita menemukan tong sampah.

Banyak cara yang dapat di lakukan untuk melestarikan lingkungan hidup. Sudah saatnya kita mulai cemas dan mulai mengambil tindakan untuk merefleksikan kecemasan kita terhadap lingkungan yang kerusakannya sudah mengglobal ini.

Masalah lingkungan atau sampah bukan hanya masalah pemulung, bukan hanya masalah segelintir orang, tapi juga masalah buat warga dunia saat ini. Sudah banyak daerah di Indonesia tercinta ini yang lingkungannya dalam kondisi yang rusak, contohnya saja di Borneo.

Kondisi penebangan liar, pembukaan lahan untuk pertanian dan juga untuk pemukiman sudah sangat memprihatinkan. Bisa kita lihat saat ini Kalimantan yang disebut sebagai paru – paru dunia ini sudah mulai berkurang jumlah luasan hutannya. Berdasarkan data dari WWF tahun 2005 di perkirakan pada tahun 2010 jumlah luasan hutan di Borneo tinggal 44,4 % saja.

Dampak pemanasan global bagi bumi ini tidak dapat dibiarkan begitu saja, terlebih dengan semakin banyaknya hutan yang gundul akibat penebangan pohon secara liar. Padahal fungsi pohon sangat penting untuk menyerap gas CO2, maupun gas beracun lainnya di udara. Selain itu keberadaan pohon mampu menghasilkan Oksigen atau O2, yang merupakan sumber kehidupan bagi semua makhluk di Bumi.

Pentingnya menanam pohon bagi kelangsungan hidup di bumi, diwujudkan dalam bentuk aksi membagi bibit tanaman maupun gerakan menanam pohon, oleh para aktivis pecinta lingkungan, maupun para pelajar.

Seperti yang kita ketahui hutan berfungsi sebagai penyerap gas CO2 dan penghasil O2, dan penyimpan atau penampung air dalam jumlah besar. Bagaimana jadinya bila hutan ini menjadi rusak, Akibat yang di timbulkan tidaklah sedikit, dan pastinya akan menelan banyak korban jiwa, seperti akan adanya tanah longsor, banjir bandang, dan pastinya dengan jumlah luasan hutan yang tinggal sedikit tidak akan dapat menyerap gas rumah kaca sehingga akibatnya pengaruh Global Warming ini akan terus meluas dimana – mana.

Efek Global Warming jangan di anggap sebelah mata saja, Selama ini kita sudah merasakan imbas dari Global Warming itu sendiri, seperti pergeseran musim yang tidak menentu, kemarau yang berkepanjangan sehingga menyebabkan tanah menjadi tandus, tenggelamnya pulau – pulau kecil, badai atau topan yang terjadi secara tiba – tiba, seperti yang terjadi baru – baru ini di wilayah Asia Tenggara.

Angin badai yang mengguncang daerah Laos, Filipina, Vietnam, dan Kamboja ini memakan banyak korban jiwa dan harta benda.  Sudah saatnya kita mulai memikirkan apa yang bisa kita lakukan untuk lingkungan hidup. Jangan sampai kita menjadi korban dari Global Warming berikutnya.

Banyak cara yang dapat kita lakukan untuk mengurangi efek Global Warming ini  diantaranya adalah dengan menanami setiap jengkal rumah kita dengan pohon atau bila rumah tidak memiliki lahan yang luas, tanaman bisa di letakkan di atap rumah atau tanah yang masih tersisa di rumah. Karena tiap pohon dapat menghasilkan 260 pon O2 tiap tahunnya.

Selain itu pohon juga dapat menyerap gas penyebab Global Warming seperti CO2 sebanyak 1 ton tiap tahunnya. Menanam pohon ini juga merupakan kontribusi kita terhadap lingkungan. Pohon dapat  membantu menurunkan emisi gas rumah kaca, sehingga turut membantu menurunkan pengaruh Global Warming. Mulailah dari sekarang menanamkan semangat untuk menjaga lingkungan dan mencintai lingkungan, karena mencintai lingkungan itu tidak mahal serta bermanfaat bagi kita semua.

SALAM KMPL BISA!!

HARI LINGKUNGAN…

HARI LINGKUNGAN HIDUP SEDUNIA

Lingkungan hidup begitu penting adanya bagi kehidupan manusia. Dengan bersih dan sehatnya lingkungan sekitar, aktivitas sehari-hari pun bisa berjalan dengan baik dan maksimal. Dengan mengaplikasikan program sederhana nan penting seperti Go Green dan mengerti akan dampak buruk dari Global Warming, hal tersebut bisa membantu kehidupan menjadi lebih baik untuk diri sendiri maupun masyarakat lainnya.

Pada tanggal 5 Juni setiap tahunnya, diperingati sebuah gerakan yang dimaksudkan agar para manusia di seluruh dunia semakin perhatian dan mencintai lingkungan hidup di Bumi ini, yaitu Hari Lingkungan Hidup Sedunia atau World Environment Day.

Hari Lingkungan Hidup Sedunia ini pertama kali dicetuskan pertama kali pada tahun 1972. Hal ini merupakan rangkaian dari kegiatan lingkungan pada dua tahun sebelumnya, ketika seorang Senator Amerika Serikat dari Wisconsin, Gaylord Nelson, yang mengamati betapa kotor dan tercemarnya Bumi ini oleh ulah dan berbagai aktivitas manusia. Oleh karena itu, ia mengambil prakarsa bersama dengan LSM untuk mencurahkan satu hari sebagai bentuk usaha penyelamatan Bumi dari kerusakan.

 

Kepada Yth.  …

Kepada Yth.                                              Denpasar, 28 April 2012

Penanggung Jawab Global FM 96,5

u.p. Penyiar Wanita Global Minggu (29/4)

 

Topik Wanita Global Minggu (29/4): “Gerakan Mahasiswa seharusnya Menawarkan Konsep

 

Tiap ada isu nasional yang menyita perhatian luas, mahasiswa mulai ikut turun ke jalan. Mereka beramai-ramai bergerak di jalan umum. Semula misinya bagus, mereka menyuarakan aspirasi masyarakat. Tetapi, aksi mereka malah tak jarang menimbulkan kemacetan lalu lintas. Demonstrasi memang tak dilarang, tetapi mengapa harus mengganggu kenyamanan warga lain di jalan raya? Mungkinkah itu cara mahasiswa yang berunjuk rasa sekadar memancing perhatian masyarakat? Jika seperti itu, bukankah malah dapat mengurangi simpati masyarakat terhadap gerakan mahasiswa?

Selamat Pagi para pendengar radio global yang luar biasa, perekenalkan …..

Aksi mahasiswa turun ke jalan biasanya memang dilatarbelakangi sebuah masalah yang terjadi di Masyarakat. Mahasiswa yg melakukan aksi turun ke jalan merasa mereka memiliki sebuah kewajiban untuk menyampaikan aspirasi masyarakat sebagai salah satu komponen masyarakat bidang akademik. Biasanya, aksi turun kejalan ni dilakukan untuk menyita perhatian para pemilik kebijakan tidak hanya pemerintah mungkin tapi juga beberapa organisasi dibidangnya untuk memperjuangkan suatu hal. Karena terkadang unjuk rasa dianggap sebagai cara mujarab dan cepat untuk membuat pendapat-pendapat maupun aspirasi masyarakat untuk lebih didengar dan dipertimbangkan.

Lapisan masyarakat ada banyak macamnya. Menanggapi soal demo dan unjuk rasa pasti ada yang pro dan ada kontra. Itu semua dikembalikan lagi kepada masing2 pribadi masyarakat. Yang harus dilakukan sebenarnya ialah memahami dengan benar apa yang sedang terjadi dan memikirkan sebuah solusi untuk  perubahan yang baik tentunya.

 

Mahasiswa tentu memiliki kekuatan moriil luar biasa. Dari gerakan mahasiswa sering lahir pemimpin-pemimpin baru. Namun, tampaknya itu pengalaman masa lalu. Dari kampus era 1960-an dan 1970-an  muncul nama Akbar Tanjung, Cosmas Batubara, Hariman Siregar, dll. Mereka ini dulu dikenal aktivis yang berotak dan bernyali. Jika melakukan aksi turun ke jalan, mereka betul-betul menguasai masalah yang diperjuangkan. Apakah mahasiswa sekarang punya nyali, juga memiliki konsep seperti generasi aktivisnya dulu? Apa yang harus diperbaiki dari gerakan mahasiswa sekarang?

Ya, memang benar apa disebutkan, beberapa aktifis spt Akbar Tanjung, Cosmas Batubara, Hariman Siregar telah banyak melakukan sebuah perubahan melalui aksi turunke jalan pada jamannya.

Jika ditanya soal nyali, seorang aktifis wajib untuk memiliki nyali. Namun soal konsep, saya rasa belum semua memiliki konsep yang matang dan tepat sasaran. Bisa saja, ada konsep, namun yg mengetahui hanya 1-2 org saja, sisanya hanya ikut-ikutan dan sebagai peramai. Itu sering terjadi. Bahkan tidak jarang berakhir anarkis dan merusak beberapa fasilitas umum. Itu semua bagian dari rasa emosional jiwa muda seorang mahasiswa.

Yang harus dibina dan dipikirkan lagi ialah, menanggapi berbagai masalah yang terjadi dimasyarakat. Mahsiswa dapat memiliiki konsep yang matang terhadap masalah-masalah di masyrakat. Konsep terebut dapat berupa beberapa alternative solusi yang dapat ditawarkan kepada pemerintah, yang berwenang untuk membantu penyelesaian masalah dan tentunya menggunakan disiplin ilmu yg mereka dpatkan dbangku kuliah.

 

Selain belajar tekun di kampus, mahasiswa memang harus peduli dengan lingkungan sosial, juga lingkungan alamnya. Apakah gerakan mahasiswa sudah menyuarakan secara kritis ancaman kerusakan alam Bali, banyaknya sampah, ancaman abrasi, mencoloknya alih fungsi lahan pertanian, dll? Sudah, ada bbrp kelompok mhsiswa dan pelajar yg scra aktif mengkritisi sebuah ancaman kerusakan alam khususnya dibali.

Jika itu disuarakan, apakah konsepnya telah digodok secara matang? Hampir.Ke mana konsep itu mereka suarakan? Kepada orang tepat sasaran. Apakah tindak tanduk mahasiswa sekarang juga masih beretika? Masih. Masihkah mereka menghormati orang lain? Sangat masih Mengapa terkadang mereka brutal dalam menyuarakan aspirasi ke muka publik? Bentuk emosional sebagai kaum muda.

 

 

Pemerintah dan elemen publik lain harus peka dengan kondisi mahasiswa sekarang. Apa yang sebaiknya pemerintah lakukan untuk membangun mahsiswa berkarakter? Sebenarnya yg hrus dilakukan pemerintah adalah, pemerintah mampu menjadi contoh dan cerminan komponen masyarakat atas yg baik. Merepa mampu adil dan jujur.

 Seperti apa kontribusi kalangan masyarakat untuk mengawal gerakan mahasiswa agar dirasakan bermanfaat bagi semua kalangan?

Sebuah gerakan yg diawali dari lingkungan terdekat kita. Contoh…..

 

Narasumber: Rahmasari Yuna, Ketua Komunitas Mahasiswa Peduli Lingkungan FK Unud

–  telepon: 081931195293

 

Informasikan kepada Pendengar Global, topik Siaran Interaktif Global Minggu (29 April 2012): Ancaman Serius Rusaknya Terumbu Karang (narasumber: Ir. Ketut Sudiarta, M.Si.)                                                                                                            

                                                                                                WIDMINARKO

Gerakan Mahasiswa

di Simpang Jalan

 

UNJUK rasa mahasiswa memprotes dan menolak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) baru-baru ini diberitakan luas media massa. Unjuk rasa serupa itu juga terjadi di Bali, khususnya di Kampus Unud. Namun, ada kesan yang berbeda. Unjuk rasa di Jakarta atau Makassar, misalnya, terkesan semarak. Demonstrasi mahasiswa di Bali terasa adem-adem saja.

Aksi demonstrasi mahasiswa di Jakarta atau Makassar diberitakan media elektronik maupun media cetak. Masyarakat luas dapat menyaksikan dan membaca aksi unjuk rasa tersebut secara terbuka. Ada macam-macam gambaran yang dapat dicerna masyarakat dari demonstrasi tersebut. Umumnya demonstrasi yang dilakukan mahasiswa di Jakarta maupun Makassar digambarkan berakhir dengan bentrokan antara pengunjuk rasa dan aparat keamanan.

Demonstrasi mahasiswa di Bali, khususnya  yang dilakukan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unud, sebaliknya. Aksi unjuk rasa dilakukan di dalam lingkungan kampus. Aktivis mahasiswanya menggelar tenda sambil berorasi menolak kenaikan harga BBM. Beberapa dosen ikut menyuarakan aspirasi mereka mendukung protes mahasiswa.

Sayang unjuk rasa yang semula berlangsung damai tersebut sempat dinodai aksi tidak terpuji sekelompok orang. Konon ada beberapa oknum preman yang menyusup. Ketua BEM Unud dihadiahi bogem mentah. Sampai sekarang tidak terungkap jelas motif pelaku penganiayaan tersebut. Identitas pelaku pun tidak diketahui sampai sekarang.

Unjuk rasa sebenarnya merupakan salah satu cara penyampaian perasaan, isi hati, uneg-uneg, maupun gagasan. Ketika unjuk rasa dilakukan di ruang publik, ditujukan untuk menyuarakan kepentingan publik, biasanya ada perasaan, isi hati, uneg-uneg, atau gagasan yang berkaitan dengan kepentingan publik yang ingin disampaikan demonstran kepada pemangku kepentingan umum. Rencana menaikkan harga BBM, misalnya, merupakan kebijakan yang dikeluarkan pejabat publik, khususnya pemerintah dan DPR. Namun, perasaan publik ternyata terganggu ketika pemerintah berencana akan menaikkan harga BBM.

Mahasiswa digolongkan masyarakat yang kritis menangkap perasaan masyarakat. Mereka menyuarakan perasaan, isi hati, uneg-uneg masyarakatnya. Saat pemerintah hendak menaikkan harga BBM, sebagian mereka menolak rencana pemerintah tersebut, karena dipandang dapat membuat masyarakat memikul beban kehidupan sehari-hari lebih berat.

Belakangan ini, suara penolakan mahasiswa terkesan tidak lagi dilakukan melalui proses komunikasi di ruang dialog wakil rakyat maupun pemerintah. Ada rasa tidak percaya, dialog dengan pemerintah maupun DPR cenderung tidak efektif menjawab tuntutan mereka. Mahasiwa lebih memilih menyuarakan aspirasi masyarakat melalui aksi turun ke jalan.

Aksi unjuk rasa mahasiswa di jalanan memang tidak jarang berhasil membuat aspirasi yang diperjuangkan mencapai sasaran. Contoh, aksi mahasiswa melengserkan rezim Orde Baru tahun 1998. Upaya menduduki gedung wakil rakyat di Senayan dalam waktu yang cukup lama berhasil memaksa Suharto mundur dari jabatannya. Demonstrasi besar-besaran zaman itu berakhir dengan bentrokan. Ada mahasiswa yang tewas terkena tembakan, ada pula yang luka-luka.

Aksi demonstrasi menolak rencana pemerintah menaikkan harga BBM juga relatif berhasil menekan DPR dan pemerintah. Rencana pemerintah akhirnya terganjal di gedung wakil rakyat. DPR sepakat mendesak pemerintah menunda merealisir rencana tersebut.

Itu tentu bisa ditafsirkan berkat tekanan protes keras yang dilancarkan mahasiswa yang melakukan unjuk rasa di luar ruang sidang waktu itu. Tetapi, aksi unjuk rasa  di jalan yang benar-benar mencapai sasaran ternyata tidak banyak jumlahnya. Banyak aksi demonstrasi mahasiswa yang justru hanya berakhir dengan bentrokan. Aspirasi yang disuarakan hanya berhenti di tengah kerumunan massa yang berdemonstrasi.

Aksi unjuk rasa yang dilakukan mahasiswa juga tidak jarang menimbulkan ekses jelek di mata masyarakat. Arus lalu lintas umum terganggu akibat pengunjuk rasa menutup jalan raya atau membakar ban bekas di tengah jalan. Ada lagi demonstrasi mahasiswa yang menyetop kendaraan masyarakat yang hendak melintasi jalan umum. Lagipula ada oknum pengunjuk rasa yang disebut-sebut memanfaatkan kesempatan untuk melakukan penjarahan barang milik masyarakat, termasuk merusak fasilitas umum. Aksi mahasiswa turun ke jalan juga mudah ditunggangi pihak yang mungkin memiliki motif lain di luar idealisme perjuangan mahasiswa. Dari sini terkesan gerakan mahasiswa sedang berada di persimpangan jalan.

Namun, idealnya aspirasi kritis mahasiswa memang harus terus disuarakan. Ini jelas merupakan cermin peran intelektual mahasiswa sebagai komponen masyarakat akademik. Namun, gerakan nyata mahasiswa sebaiknya tidak hanya melulu disuarakan melalui aksi demonstrasi.  Gerakan baru mahasiswa sudah harus dipikirkan ulang agar lebih mengedepankan kesiapan konsep tentang masalah yang akan diperjuangkan. Mahasiswa yang hendak berunjuk rasa seharusnya memahami dan mendalami masalahnya secara mendalam sebelum turun ke jalan. Ini jika aksi turun ke jalan itu dipandang memang tak bisa dihindarkan.

Aksi nyata mahasiswa juga sebaiknya dilakukan dengan cara mengangkat masalah yang dekat dengan kehidupan masyarakat sehari-hari. Misalnya, masalah kebersihan lingkungan. Mahasiswa dapat menjadi motor penggerak untuk mendorong masyarakat luas memiliki kesadaran dalam melestarikan lingkungan yang bersih dari sampah. Mahasiswa juga sebaiknya memberikan masukan konstruktif kepada pemerintah dan wakil rakyatnya agar mengawal sungguh-sungguh pembangunan lingkungan sesuai semboyan clean and green.

Aksi penanaman mangrove yang akan dilakukan Komunitas Mahasiswa Peduli Lingkungan Fakultas Kedokteran Unud, 5 Mei 2012, di Pulau Serangan, Denpasar Selatan, merupakan salah satu bentuk gerakan mahasiswa yang bertujuan membangun kesadaran pelestarian lingkungan. Aksi penanaman 1000 anakan mangrove tersebut kelak diharapkan dapat mendorong masyarakat, juga kalangan pelaku usaha tidak merusak hutan mangrove di Bali. Hutan mangrove memiliki  banyak manfaat positif dalam mewujdukan misi pembangunan lingkungan yang berkelanjutan.

Yang tak kaah pentingnya pemerintah maupun kalangan wakil rakyat tanggap terhadap aspirasi mahasiswa, menyalurkan, mendiskusikan, dan menindaklanjutinya.

 

  • Rahmasari Yuna

                                 Ketua Umum Komunitas

                                 Mahasiswa Peduli Lingkungan

                                                                   FK Unud